Ah saya akhirnya punya keberanian untuk menulis kembali, membiarkan pikiran-pikiran liar saya menjajah pikiran dan alam bawah sadar saya. Bagi saya moment-moment saat saya dapat dengan mudah bercerita dan bertutur tampaknya lambat laun mulai menghilang sedikit demi sedikit, entah kenapa..
Tetapi hari ini saya coba kumpulkan keberanian itu dan memaksa otak kecil saya agar menulis kembali. sekarang kita liat bahan apa yang saya punya.. mhmm… saya punya banyak cerita tentang kuliah-kuliah master saya di UGM Jakarta (khususnya tentang teman-teman sekelas yang aneh bin ajaib untuk tingkatan S2 dan usia mereka), saya juga punya cerita-cerita tentang kegemaran baru saya bertweet (salah satu yang membuat saya jarang menulis di blog hufh… ) dan tentu saja cerita tentang hari-hari saya pasca menundurkan diri dari pekerjaan (hari-hari yang luar biasa bagi saya).
Oke sudah diputuskan dan menu hari ini adalah tentang kuliah S2 saya di UGM Jakarta, banyak yang bertanya mengapa saya mengambil program master saya di UGM? Mengapa tidak dikampus lain? Terus terang saya pun tidak punya jawaban yang “smart” untuk mereka, kecuali bahwa saya sangat menyukai Jogja, sudah hanya sesederhana itu.
Mungkin juga sebabnya adalah, saya punya memory yang baik ketika waktu kuliah dulu saya dan rekan-rekan di koperasi perbanas melakukan study banding ke Koperasi Mahasiswa UGM. Kami disambut dengan sangat ramah dan bagi kami yang terbiasa hidup dengan tempo perkotaan merasa sangat kaget ketika dihadapkan dengan tempo kehidupan Jogja yang biar lambat asal selamat (saat itu bukanlah kali pertama saya ke Jogja tetapi saat itulah yang paling berkesan)
Ditambah dengan keputusan adik saya untuk berkuliah di UGM membuat saya semakin “akrab” dengan kehidupan perkuliahan di UGM. Jadi mungkin kalo ada yang menanyakan kembali mengapa saya pilih UGM? Mungkin saya akan jawab, karena UGM dan hanya itu. Hehe what a silly answer..
Kembali ke topik, ketika masuk dahulu kami dibagi-bagi kedalam kelas-kelas sesuai pilihan kami yaitu reguler, eksekutif dan weekend. Dan saya masuk kedalam kelas eksekutif dan karena jumlah peminatnya yang banyak saat itu kelas kami dibagi menjadi 2 yaitu A dan B dan kebetulan saya masuk kedalam kelas B.
Entah apa dasar pembagiannya tetapi yang saya dan teman-teman rasakan adalah kelas A adalah kumpulan orang-orang yang sangat-sangat serius dan berkuliah, tak jarang mereka masih berada di kampus sampai dengan pukul 1 pagi untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah mereka.
Sementara kelas B adalah kumpulan (kalo boleh saya sebut) orang-orang yang sangat menikmati hidupnya.. berbanding terbalik dengan kelas A di kelas B kami memang tidak langsung pulang ketika kelas berakhir (kuliah kami berakhir pukul 22.00) tetapi tidak seperti kelas A yang memilih berkumpul dikampus menyelesaikan tugas-tugasnya (saya hanya menduga-duga, setidaknya itu yang saya dan teman-teman pikir tentang kelakuan teman-teman kami di A) kami kelas B memilih menghabiskan hari berkumpul di warung roti bakar dan mie ayam… sungguh cara yang sangat cerdas mengingat kami sudah seharian bekerja dan besoknya pun harus tetap bekerja.. tetapi hal itulah yang kemudian membuat kami berfikir bahwa ada konspirasi jahat untuk menyatukan si pintar dan rajin dalam satu kumpulan dan orang-orang yang senang berhuru-hara di kumpulan satunya..
Banyak cerita yang bisa diceritakan tentang teman-teman kelas B saya, seperti ritual yang selalu kami lakukan sebelum berpisah, tentang jumlah teman kelas yang terus menyusut, tentang bagaimana kami bisa membuat para professor tertawa terbahak-bahak ketika mengajar dikelas kami, tentang bagaimana persahabatan tercipta dan banyak hal-hal lain yang kalo saya ceritakan disini dapat membuat kamu berfikir bahwa ini bukan kelas master UGM yang tersohor itu, tetapi hanya cerita dari sebuah kelas di tingkatan SMA…
Atau SMP…
Atau SD…
Atau taman kanak-kanak mungkin lebih tepat..??


Leave a comment
Comments feed for this article